Pada saat ini, kita hidup di zaman globalisasi atau dapat disebut sebagai zaman modernisasi. Modernisasi sendiri memiliki tujuan untuk mengembangkan atau memajukan keadaan ke arah yang lebih baik lagi dengan harapan kehidupan manusia akan dapat menjadi lebih baik. Di zaman ini, mungkin dapat dikatakan bahwa kehidupan manusia kini sangat bergantung pada media baru (new media) atau internet. Internet kini sudah tidak asing lagi diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang yang berusia lanjut meskipun tidak menggunakan internet secara langsung.
Namun
sayangnya, akses internet hingga kini masih kurang tersebar secara merata di
seluruh lapisan masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya faktor atau aspek
kehidupan yang tanpa sadar telah mempengaruhi penggunaan akses internet itu
sendiri. Penelitian menunjukkan masyarakat minoritas seperti orang
Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih sangat kecil kemungkinannya untuk
memiliki unit komputer dirumah dan kurang memiliki akses terbatas terhadap
jaringan internet. Dibandingkan dengan masyarakat kulit putih dan Asia. Oleh
karena itu, masyarakat Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih kehilangan
kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan internet (neu et.al, 1999).
Penelitian kemudian menunjukkan bahwa kaum minoritas juga cenderung menggunakan
lebih sedikit waktu mereka untuk online.
Selain itu, Howard et,al (2002) mengemukakan bahwa perbedaan pendapatan dan
pendidikan dapat juga menjadi aspek yang mempengaruhi penggunaan akses
internet.
Seperti
yang terjadi di Indonesia. Penetrasi jumlah pengguna internet di Indonesia diketahui
baru mencapai 30% dari total populasi. Angka itu berdasarkan hasil riset Asosiasi
Jasa Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Pusat Kajian Komunikasi,
Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (PusKaKom) FISIP UI, yang
menyatakan bahwa pengguna internet di Tanah Air pada tahun 2014 ada sebanyak
88,1 juta dari total 250 jutaan penduduk yang ada di Indonesia. Tetapi,
sebagian besar pengguna internet disebutkan masih berada di wilayah barat
Indonesia yang dekat dengan pusat pemerintahan. Meskipun kesenjangan masih
ditemukan saat masyarakat wilayah Barat dibedakan berdasarkan asal, perkotaan
atau pedesaan. Sementara di wilayah timur Indonesia masih tergolong kurang. Hal
tersebut terjadi dikarenakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah masih
belum merata, khususnya dibidang teknologi. Dalam kasus ini, peran pemerintah
dalam membangun Indonesia sangat membutuhkan strategi pembangunan yang lebih
baik, agar pembangunan yang dilakukan tidak lagi menimbulkan kesenjangan.
Jumlah
pengguna internet di Indonesia setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Mengapa
hal tersebut terjadi? Jumlah penduduk yang padat dengan angka kelahiran yang
tinggi dapat menjadi salah satu penyebabnya. Generasi muda Indonesia terus
bertambah seiring berjalannya waktu. Seperti yang telah disebutkan bahwa saat
ini kita memasuki zaman modernisasi, maka tak heran lagi jika sebagian besar
pengguna internet berasal dari kalangan anak-anak dan remaja. Mereka lebih banyak
menggunakan waktunya untuk mengakses internet, contohnya bermain game online dan berinteraksi dengan
menggunakan jejaring sosial (Twitter, Facebook, Line, Whatsapp, dan jejaring
sosial lainnya). Tidak hanya berasal dari rentang usia anak-anak dan remaja
saja yang menggunakan internet untuk jejaring sosial, orang dewasa pun juga turut
menggunakannya.
Hal
diatas dapat menyebabkan tingkat kemungkinan terbentuknya komunitas virtual yang baru
meningkat. Melihat pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa internet memiliki
keterkaitan dengan komunitas yang dalam masyarakat. Menurut Beniger (1998),
internet memang memiliki keterkaitan dengan komunitas, tetapi internet tidak
dapat menjadi sumber dari komunitas organik (komunitas di kehidupan nyata). Dan
penggunaan internet dapat mengurangi makna komunitas organik sebenarnya. Dengan
seringnya kita menggunakan jejaring sosial akan menumbuhkan perilaku yang
ceroboh, tidak bertanggung jawab, dan bahkan dapat merubah diri menjadi
anti-sosial (John Seely Brown, 1995 : 12). Namun, komunitas virtual tidak akan
dapat menggantikan komunitas organik, tetapi justru dapat membantu menguatkan
komunitas organik.
Selain digunakan untuk interaksi sosial,
internet juga dapat digunakan sebagai “forms
of expression”. Maksud dari “forms of
expression” adalah internet dapat
berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan diri mereka, misalnya dengan
melalui halaman web pribadi atau mengembangkan hubungan dengan teman dan
keluarga melalui bantuan internet yang akan memunculkan bentuk-bentuk ekspresi
baru. Salah satu bentuk ekspresi baru yang dapat muncul adalah adanya seorang hacker (Civin, 1999; Odzer, 1997). Terjadinya
pemalsuan identitas juga dapat terjadi. Contohnya kasus penipuan yang dialami
oleh seorang wanita bernama Wilda Silviani (32) yang berasal dari Kota Sukabumi,
pada bulan Februari 2015. Ia ditipu oleh tersangka yang mengaku tengah
kesulitan ekonomi dan meminjam uang korban hingga Rp 37 juta. Korban mengenal
tersangka dari jejaring sosial Facebook dan selama ini mereka hanya menggunakan
Facebook dan telepon untuk berinteraksi. Kejadian tersebut telah membuktikan
bahwa penggunaan internet dapat memicu terjadinya tindakan kriminal dan dapat memakan
korban.
Di
sisi lain, beberapa peniliti percaya bahwa dengan menggunakan internet tidak hanya dapat berdampak buruk. Tetapi, menggunakan internet juga dapat memberikan
dampak yang baik bagi para pengguna. Cerulo (1997), mengkritik pendapat Beniger
(1998) dengan menyatakan bahwa kita membutuhkan konsep ulang sebuah komunitas
untuk membantu meningkatkan teknologi komunikasi yang baru, berdasarkan bukti
tentang interaksi sosial dan ikatan sosial. Keterlibatan internet juga dapat membentuk
komunitas alternatif yang berharga dan berguna sebagai sesuatu yang akrab dalam
komunitas (Pool, 1983; Rheingold, 1993). Dengan menggunakan internet, hubungan
yang terjalin antar anggota komunitas dapat semakin dekat. Kegiatan bertukar
informasi dalam komunitas menjadi lebih mudah dengan menggunakan internet,
tidak perlu untuk bertemu terlebih dahulu untuk melakukannya. Bagi para
pelajar internet dapat dimanfaatkan sebagai media informasi. Para pelajar akan mendapatkan informasi secara luas dan pengetahuan pun
dapat bertambah. Penggunaan internet sebagai media informasi juga dapat
dimanfaatkan oleh siapa saja. Orang yang memiliki kekurangan atau dissabilities kini juga dapat merasakan
manfaat dari internet, yaitu dengan didukung oleh software khusus pada alat teknologi komunikasinya. Salah satunya
adalah aplikasi Text to Speech Bahasa
Indonesia yang digunakan untuk penyandang tunanetra, yaitu aplikasi yang dapat mengkonversi tulisan berbahasa
Indonesia menjadi ucapan dalam bahasa Indonesia juga.
Dari
yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa penggunaan internet dapat
menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Dampak yang ditimbulkan tergantung
pada bagaimana cara kita dalam menggunakan dan memanfaatkan internet. Jika
digunakan dengan baik, maka dampak yang menguntungkan akan didapatkan oleh
penggunanya dan dampak yang merugikan akan didapatkan jika tidak digunakan
dengan baik. Internet tanpa disadari telah berhasil membuat sebagian besar
masyarakat yang menggunakannya memiliki rasa ketergantungan terhadap internet.
REFERENSI :
Baharudin,
Erwan. 2006. “Pemanfaatan Software Untuk
Tunanetra Dalam Menggunakan Komputer” Vol. 4, NO.2. http://erwan.weblog.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/sites/1146/2013/08/Pemanfaatan-Komputer-Tunanetra.pdf.
Diakses pada Kamis, 24 Maret 2016
Lievrouw,
Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media :
Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd.
London.
Mahardy,
Denny. “Masih Ada Kesenjangan Internet di Indonesia Barat”. http://tekno.liputan6.com/read/2212700/masih-ada-kesenjangan-internet-di-indonesia-barat. Diakses pada Kamis, 24
Maret 2016







0 komentar:
Posting Komentar