Jumat, 25 Maret 2016

Internet Usage : Indonesia


Pada saat ini, kita hidup di zaman globalisasi atau dapat disebut sebagai zaman modernisasi. Modernisasi sendiri memiliki tujuan untuk mengembangkan atau memajukan keadaan ke arah yang lebih baik lagi dengan harapan kehidupan manusia akan dapat menjadi lebih baik. Di zaman ini, mungkin dapat dikatakan bahwa kehidupan manusia kini sangat bergantung pada media baru (new media) atau internet. Internet kini sudah tidak asing lagi diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang yang berusia lanjut meskipun tidak menggunakan internet secara langsung.

Namun sayangnya, akses internet hingga kini masih kurang tersebar secara merata di seluruh lapisan masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya faktor atau aspek kehidupan yang tanpa sadar telah mempengaruhi penggunaan akses internet itu sendiri. Penelitian menunjukkan masyarakat minoritas seperti orang Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih sangat kecil kemungkinannya untuk memiliki unit komputer dirumah dan kurang memiliki akses terbatas terhadap jaringan internet. Dibandingkan dengan masyarakat kulit putih dan Asia. Oleh karena itu, masyarakat Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan internet (neu et.al, 1999). Penelitian kemudian menunjukkan bahwa kaum minoritas juga cenderung menggunakan lebih sedikit waktu mereka untuk online. Selain itu, Howard et,al (2002) mengemukakan bahwa perbedaan pendapatan dan pendidikan dapat juga menjadi aspek yang mempengaruhi penggunaan akses internet.

Seperti yang terjadi di Indonesia. Penetrasi jumlah pengguna internet di Indonesia diketahui baru mencapai 30% dari total populasi. Angka itu berdasarkan hasil riset Asosiasi Jasa Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Pusat Kajian Komunikasi, Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (PusKaKom) FISIP UI, yang menyatakan bahwa pengguna internet di Tanah Air pada tahun 2014 ada sebanyak 88,1 juta dari total 250 jutaan penduduk yang ada di Indonesia. Tetapi, sebagian besar pengguna internet disebutkan masih berada di wilayah barat Indonesia yang dekat dengan pusat pemerintahan. Meskipun kesenjangan masih ditemukan saat masyarakat wilayah Barat dibedakan berdasarkan asal, perkotaan atau pedesaan. Sementara di wilayah timur Indonesia masih tergolong kurang. Hal tersebut terjadi dikarenakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah masih belum merata, khususnya dibidang teknologi. Dalam kasus ini, peran pemerintah dalam membangun Indonesia sangat membutuhkan strategi pembangunan yang lebih baik, agar pembangunan yang dilakukan tidak lagi menimbulkan kesenjangan.

Jumlah pengguna internet di Indonesia setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Mengapa hal tersebut terjadi? Jumlah penduduk yang padat dengan angka kelahiran yang tinggi dapat menjadi salah satu penyebabnya. Generasi muda Indonesia terus bertambah seiring berjalannya waktu. Seperti yang telah disebutkan bahwa saat ini kita memasuki zaman modernisasi, maka tak heran lagi jika sebagian besar pengguna internet berasal dari kalangan  anak-anak dan remaja. Mereka lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengakses internet, contohnya bermain game online dan berinteraksi dengan menggunakan jejaring sosial (Twitter, Facebook, Line, Whatsapp, dan jejaring sosial lainnya). Tidak hanya berasal dari rentang usia anak-anak dan remaja saja yang menggunakan internet untuk jejaring sosial, orang dewasa pun juga turut menggunakannya.

Hal diatas dapat menyebabkan tingkat kemungkinan terbentuknya komunitas virtual yang baru meningkat. Melihat pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa internet memiliki keterkaitan dengan komunitas yang dalam masyarakat. Menurut Beniger (1998), internet memang memiliki keterkaitan dengan komunitas, tetapi internet tidak dapat menjadi sumber dari komunitas organik (komunitas di kehidupan nyata). Dan penggunaan internet dapat mengurangi makna komunitas organik sebenarnya. Dengan seringnya kita menggunakan jejaring sosial akan menumbuhkan perilaku yang ceroboh, tidak bertanggung jawab, dan bahkan dapat merubah diri menjadi anti-sosial (John Seely Brown, 1995 : 12). Namun, komunitas virtual tidak akan dapat menggantikan komunitas organik, tetapi justru dapat membantu menguatkan komunitas organik.

Selain digunakan untuk interaksi sosial, internet juga dapat digunakan sebagai “forms of expression”. Maksud dari “forms of expression adalah internet dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan diri mereka, misalnya dengan melalui halaman web pribadi atau mengembangkan hubungan dengan teman dan keluarga melalui bantuan internet yang akan memunculkan bentuk-bentuk ekspresi baru. Salah satu bentuk ekspresi baru yang dapat muncul adalah adanya seorang hacker (Civin, 1999; Odzer, 1997). Terjadinya pemalsuan identitas juga dapat terjadi. Contohnya kasus penipuan yang dialami oleh seorang wanita bernama Wilda Silviani (32) yang berasal dari Kota Sukabumi, pada bulan Februari 2015. Ia ditipu oleh tersangka yang mengaku tengah kesulitan ekonomi dan meminjam uang korban hingga Rp 37 juta. Korban mengenal tersangka dari jejaring sosial Facebook dan selama ini mereka hanya menggunakan Facebook dan telepon untuk berinteraksi. Kejadian tersebut telah membuktikan bahwa penggunaan internet dapat memicu terjadinya tindakan kriminal dan dapat memakan korban.

Di sisi lain, beberapa peniliti percaya bahwa dengan menggunakan internet tidak hanya dapat berdampak buruk. Tetapi, menggunakan internet juga dapat memberikan dampak yang baik bagi para pengguna. Cerulo (1997), mengkritik pendapat Beniger (1998) dengan menyatakan bahwa kita membutuhkan konsep ulang sebuah komunitas untuk membantu meningkatkan teknologi komunikasi yang baru, berdasarkan bukti tentang interaksi sosial dan ikatan sosial. Keterlibatan internet juga dapat membentuk komunitas alternatif yang berharga dan berguna sebagai sesuatu yang akrab dalam komunitas (Pool, 1983; Rheingold, 1993). Dengan menggunakan internet, hubungan yang terjalin antar anggota komunitas dapat semakin dekat. Kegiatan bertukar informasi dalam komunitas menjadi lebih mudah dengan menggunakan internet, tidak perlu untuk bertemu terlebih dahulu untuk melakukannya. Bagi para pelajar internet dapat dimanfaatkan sebagai media informasi. Para pelajar akan mendapatkan informasi secara luas dan pengetahuan pun dapat bertambah. Penggunaan internet sebagai media informasi juga dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Orang yang memiliki kekurangan atau dissabilities kini juga dapat merasakan manfaat dari internet, yaitu dengan didukung oleh software khusus pada alat teknologi komunikasinya. Salah satunya adalah aplikasi Text to Speech Bahasa Indonesia yang digunakan untuk penyandang tunanetra, yaitu aplikasi yang dapat mengkonversi tulisan berbahasa Indonesia menjadi ucapan dalam bahasa Indonesia juga.

Dari yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa penggunaan internet dapat menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Dampak yang ditimbulkan tergantung pada bagaimana cara kita dalam menggunakan dan memanfaatkan internet. Jika digunakan dengan baik, maka dampak yang menguntungkan akan didapatkan oleh penggunanya dan dampak yang merugikan akan didapatkan jika tidak digunakan dengan baik. Internet tanpa disadari telah berhasil membuat sebagian besar masyarakat yang menggunakannya memiliki rasa ketergantungan terhadap internet. 


REFERENSI :
Baharudin, Erwan. 2006. “Pemanfaatan Software Untuk Tunanetra Dalam Menggunakan Komputer” Vol. 4, NO.2. http://erwan.weblog.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/sites/1146/2013/08/Pemanfaatan-Komputer-Tunanetra.pdf. Diakses pada Kamis, 24 Maret 2016


Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006,  Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.


Mahardy, Denny. “Masih Ada Kesenjangan Internet di Indonesia Barat”. http://tekno.liputan6.com/read/2212700/masih-ada-kesenjangan-internet-di-indonesia-barat. Diakses pada Kamis, 24 Maret 2016


0 komentar:

Posting Komentar