Perkembangan teknologi media dari masa ke masa selalu memiliki dampak bagi kehidupan sehari-hari. Terciptanya new media (media baru) merupakan salah satu dampak positif yang muncul akibat perkembangan teknologi media. Media yang merepresentasikan new media adalah internet. Program televisi, radio, film, majalah, buku, surat kabar, dan jenis majalah cetak lainnya tidak termasuk dalam new media (Flew, 2005).
Munculnya
internet telah mempengaruhi perkembangan bentuk komunitas. Komunitas yang
biasanya hanya terbentuk di kehidupan nyata atau dikenal dengan sebutan organic community (Van Dijk, 1998), kini
dapat terbentuk juga di dunia maya atau dikenal dengan istilah cyberspace. Komunitas yang berada di
dunia maya ini disebut dengan virtual
community. Virtual community pertama kali diperkenalkan oleh Howard
Rheingold dalam bukunya yang berujudul “The
Virtual Community : Homesteading on the Electronic Frontier” pada tahun
2000. Dalam bukunya, Rheingold menjelaskan bahwa orang-orang yang berada dalam
komunitas virtual hanya dapat menggunakan kata-kata saja untuk berinteraksi.
Tidak seperti dalam organic community yang
dapat berkomunikasi secara langsung dan dapat melakukan kontak fisik satu sama
lain, seperti berjabat tangan atau memukul seseorang sebagai pelampiasan dari emosi
yang timbul ketika tengah berinteraksi.
Komunitas virtual dapat terbentuk karena adanya persamaan minat terhadap suatu hal. Seperti yang dialami oleh diri saya sendiri. Saya tergabung dalam komunitas yang bernama EXO-L Indonesia, yaitu komunitas bagi para penggemar boyband EXO yang merupakan salah satu boyband terkenal dari Korea Selatan. Kami saling berinteraksi satu sama lain dengan menggunakan aplikasi Line. Pada awalnya komunitas ini terbentuk ketika boyband ini akan menggelar konser keduanya di Indonesia dan telah berlangsung dengan sukses pada bulan Febuari lalu. Tujuan terbentuknya komunitas ini adalah agar dapat berkenalan satu sama lain terlebih dahulu sebelum akhirnya bertemu di venue dimana konser berlangsung. Orang-orang yang tergabung dalam komunitas ini tentu pada awalnya tidak saling mengenal satu sama lain. Ketika masing-masing saling mengungkapkan identitas diri, orang yang berada dalam komunitas mulai saling menyapa satu sama lain melalui group chat yang telah dibentuk. Identitas diri yang diberikan hanya lah sekedar nama, usia, dan tempat asalnya. Identitas diri (self identity) yang diberikan dalam komunitas virtual belum tentu sama dengan identitas aslinya dalam kehidupan nyatanya. Bisa saja orang tersebut menggambarkan dirinya sebagai sosok yang ceria dalam komunitas virtual, tetapi kenyataannya ia adalah seseorang yang pendiam.
Uniknya,
dalam komunitas virtual tidak mengenal adanya perbedaan budaya, status sosial, dan
tidak adanya batasan usia bagi para anggota. Komunitas virtual yang saya ikuti ini,
ada beberapa anak yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Melihat hal tersebut dapat dikatakan bahwa efek dari perkembangan new media sangat lah luar biasa. Berbeda
dengan zaman saya ketika duduk di bangku SMP, yang pada saat itu manfaat
internet masih kurang dirasakan, karena alat teknologi komunikasi untuk dapat
mengakses internet kurang memadai. Tidak seperti saat ini, internet dapat
dengan mudah diakses pada saat di mana pun kita berada dan kapan saja.
Setelah konser diselenggarakan, komunitas virtual ini masih tetap eksis. Masing-masing individu telah merasa terikat satu sama lain, termasuk diri saya sendiri, dan hampir setiap harinya group chat ini tidak pernah ‘sepi’. Tujuan awal terbentuknya komunitas ini pun mulai berubah. Kini, komunitas virtual yang saya ikuti telah berubah menjadi group chat untuk saling bertukar informasi, pendapat, melakukan pertemuan yang sebelumnya direncanakan terlebih dahulu, bertukar pengetahuan, bahkan ada pula yang mencurahkan isi hatinya kepada anggota komunitas lain. Ketika tengah melakukan chat pun kami yang tergabung dalam komunitas harus mematuhi peraturan yang ada. Peraturan ini dibentuk untuk menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain antar anggota. Salah satunya adalah tidak diperkenankan untuk menunjukkan atau membicarakan hal-hal yang termasuk ke dalam kategori dewasa dalam group chat. Berikut adalah beberapa peraturan lainnya pada komunitas virtual saya.
Berdasarkan
pengalaman pribadi saya tersebut, saya dapat menemukan ketepatan dan kesalahan
terhadap pernyataan Van Dijk (1998) mengenai perbedaan karakteristik antara
komunitas virtual (virtual community)
dengan komunitas organik (organic community).
Van Dijk menyatakan bahwa terdapat empat perbedaan karakteristik antara
komunitas virtual (virtual community)
dengan komunitas organik (organic community),
diantaranya yaitu :
1. Berdasarkan Komposisi dan Aktivitas Komunitas
Komunitas virtual tidak memiliki batasan usia untuk menjadi anggota dan kegiatan yang tidak banyak, hanya kegiatan khusus saja. Sedangkan komunitas organik memiliki batasan usia dan memiliki beberapa kegiatan yang harus dilakukan.
2. Berdasarkan Organisasi Sosial
Seperti ada atau tidak adanya landasan waktu dan tempat yang telah ditetapkan dalam komunitas. Komunitas virtual tidak memilikinya, namun komunitas organik memilikinya.
3. Bahasa dan Cara Berinteraksi
Bahasa dan interaksi dalam komunitas virtual adalah nonverbal dan paralanguage, sedangkan komunitas organik menggunakan bentuk verbal dan nonverbal.
4. Budaya dan Identitas
Menurut Van Dijk budaya yang ada dalam komunitas virtual mengalami pencampuran budaya (akulturasi), karena budaya yang dimiliki oleh para anggota komunitasnya berbeda-beda dan identitas diri bersifat heterogen. Sedangkan dalam komunitas organik budayanya masih asli, tidak mengalami pencampuran budaya dan identitas para anggotanya bersifat homogen.
1. Berdasarkan Komposisi dan Aktivitas Komunitas
Komunitas virtual tidak memiliki batasan usia untuk menjadi anggota dan kegiatan yang tidak banyak, hanya kegiatan khusus saja. Sedangkan komunitas organik memiliki batasan usia dan memiliki beberapa kegiatan yang harus dilakukan.
2. Berdasarkan Organisasi Sosial
Seperti ada atau tidak adanya landasan waktu dan tempat yang telah ditetapkan dalam komunitas. Komunitas virtual tidak memilikinya, namun komunitas organik memilikinya.
3. Bahasa dan Cara Berinteraksi
Bahasa dan interaksi dalam komunitas virtual adalah nonverbal dan paralanguage, sedangkan komunitas organik menggunakan bentuk verbal dan nonverbal.
4. Budaya dan Identitas
Menurut Van Dijk budaya yang ada dalam komunitas virtual mengalami pencampuran budaya (akulturasi), karena budaya yang dimiliki oleh para anggota komunitasnya berbeda-beda dan identitas diri bersifat heterogen. Sedangkan dalam komunitas organik budayanya masih asli, tidak mengalami pencampuran budaya dan identitas para anggotanya bersifat homogen.
Pernyataan
mengenai perbedaan karakteristik komunitas virtual dengan komunitas organik
yang menurut saya sudah tepat adalah perbedaan komposisi dan aktivitas sosial,
organisasi sosial, bahasa dan cara berinteraksi antar anggota, sedangkan perbedaan
berdasarkan budaya dan identitas yang dinyatakan oleh Van Dijk menurut saya
masih kurang tepat. Budaya yang ada pada komunitas organik dapat mengalami
pencampuran budaya dan identitas dari komunitas virtual juga dapat bersifat
homogen. Pencampuran budaya yang dialami oleh komunitas organik dapat terjadi,
karena tidak mungkin budaya yang dimiliki oleh setiap individu pada suatu
komunitas sama. Identitas komunitas virtual juga dapat bersifat homogen sesuai
dengan individu-individu yang tergabung didalamnya.
REFERENSI :
Lievrouw, Leah A. & Sonia
Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and
Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.








0 komentar:
Posting Komentar